Arsip untuk Oktober, 2007

Koki Vs Pemimpin negara

Oktober 3, 2007

Koki Vs Pemimpin Negara Renungan  - by Ridwan FakihNegara Indonesia sudah berumur 62 tahun tapi belum kuat untuk berdiri kokoh salah siapa?

Negara Indonesia sampai saat ini sudah akan berumur 62 tahun, tetapi kita harus mengakui kita belum mempunyai sistem negara yang solid. Dulu pernah Demokrasi Terpimpin, pernah Demokrasi Pancasila, sekarang mau masuk kealam Deemokrasi “tanpa embel2″ maunya Really Democracy. Bisa dikatakan sekarang ini masih berproses, dan bisa dikatakan non sistem.
Salah Siapa? Kok sudah 62 tahun berproses, kok juga belum terbentuk. Kalau diandaikan sedang masak kapan masaknya selesai, kok nggak selesai-selesai, sudah lapar nih – kata rakyat.

Yang salah kokinya, atau yang salah fasilitasnya atau bahannya? Kalau yang salah bahannya, nggak juga, rakyak Indonesia sebenarnya mudah menyesuaikan. Kalau begitu fasilitasnya (alat masaknya) belum ada atau belum memadai, artinya sistem belum ada atau ada tetapi belum solid, sehingga menyebabkan masakan nggak kelar. Atau penyebabnya kokinya nggak becus, ini juga bisa jadi penyebab.

Kalau koki nggak becus, sebenarnya pemimpin-pemimpin kita merupakan manusia koki yang pilihan dan merupakan koki terbaik juga. Nah kalau begitu mungkin fasilitasnya kurang memadai atau dengan kata lain kita bernegara ini belum punya sistem bernegara yang benar.

Antara 2 penyebab itu mari kita sekedar mengupasnya sekedar merenung. Bisa jadi, si Koki karena merasa pinter, lalu fasilitasnya/alat masaknya direkayasa SOP nya dia rubah sedemikian supaya si koki bisa leluasa masaknya sesuai selera si koki. Marilah kita berandai seperti itu.

Kalau kemungkinan yang terakhir, si Koki (tukang masak) bisa disalahkan. Mungkin sebaiknya, koki kita perlu dibimbing dan dipaksa memakai SOP (Standard Operating Procedure) yang benar oleh koki yang berpengalaman supaya masaknya berhasil sehingga bahan yang dimasak bisa segera menjadi matang dan menjadi santapan yang enak ( yaitu masyarakat Adil & makmur seperti rencana resep semula).

Dari analogi diatas, kawan diskusi saya menyimpulkan, kenapa Indonesia ini sangat lamban untuk bangkit karena para pemimpin kita sebagai koki banyak merekayasa SOP bernegara seenaknya supaya dia tetap enak menduduki jabatan koki negara.

Kalau kita menengok kebelakang, Jepang sewaktu menjajah Indonesia sudah membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan, untuk membuat fasilitas Alat Masak dengan SOP yang benar. Tetapi karena Jepang kalah perang. Kita mengambil alih dengan alat masak seadanya dengan tekat yang baik ingin membuat masakan yang enak.

Tetapi ditengah jalan, koki kita merekayasa SOP sesuai selera akhirnya kita tidak pernah bisa bikin makanan yang enak (kemakmuran negara) untuk bisa dinikmati rakyat.

Dengan analogi diatas bisa juga negara kita seakan akan “Stateless” SOP (baca : HUKUM) tidak bisa ditegakkan. Akhirnya yang untung yang kuat saja, yang lemah “mongso bodo” sakarepmu, kalau kamu mau hidup yah berjuanglah, kalau kamu lemah yah matilah, ini seakan akan kaya ”stateless” kaya dihutan hukum rimba yang berlaku..

Tetapi saya bersyukur SBY sudah ada NIAT yang benar2 untuk menegakkan SISTEM walaupun “suangaat syuusyah”.Tetapi saya yakin dengan NIAT yang benar, point ini sudah merupakan langkah strategis untuk meletakkan pondasi bernegara yang benar ( bernegara dengan memakai SOP yang benar).

Kalau niat SBY hanya lip service, saya yakin sampai 100 tahun umur bangsa ini masih seperti sekarang ini, Yang kaya makin kaya (jumlahnya hanya sedikit ) dan sebagian besar rakyat masih tidak terlindungi dan tidak tentram karena tidak pasti masa depannya. Berarti masalah HAM makin runyam. Mungkin akan kalah dengan Timor Timur yang rakyatnya akan lebih lebih duluan menikmati kemakmuran, walaupun SDA terbatas karena sistem negara (SOP Negara) sedang berproses dibantu persiapannya oleh KOKI yang berpengalaman (PBB/UN/Negara Besar)……. dan saya takut kawan saya akhirnya pada kesimpulan, kalau begitu sebaiknya Indonesia tidak perlu merebut kemerdekaannya, biar dijajah dulu untuk di ajari membuat SOP bernegara yang benar dan si KOKI dididik untuk disiplin melaksanakan SOP. Kawan saya yakin kalau kemerdekaan tidak direbut kita rakyat Indonesia bisa lebih cepat matang berbangsa & bernegara terbiasa disiplin hidup memakai aturan hukum yang sudah ditetapkan dan aturan (hukum) bukan untuk direkayasa.

Sebagai contoh kita menegakkan aturan memakai “safety Belt” saja susah sekali, melaksanakan/menegakkan aturan dilarang merokok ditempat umum saja syuusyahnya bukan main, ini baru contoh yang sederhana.

Kawan saya malah lebih keras, jangan-jangan kita terburu buru memerdekakan diri supaya pemimpin kita bisa menduduki jabatan koki negara. Kalau kesimpulan ini muncul …wah, alhasil kita kehilangan pahlawan kemerdekaan Bung Karno, pahlawan Pembangunan/bapak bangsa seperti Suharto dan lain-lain..dan kita bukan bangsa yang besar karena tak menghargai para pahlawannya.

Yah walaupun dalam hati saya mengakui kita belum bangsa yang besar, kalau besar penduduknya, yah siapa bisa bantah!

(Ridwan Fakih – Kuwait Awal Oktober 2007)