REKAYASA BANGSA – COACH PARENTING

Indonesia, kalau ditengok dari sejarah, kita tahu ini bangsa ini kemerdekaan dengan merebut, sehingga para pemimpinnya menjadi lupa bahwa mereka menjadi Team Leader bangsa Indonesia yang tidak punya atasan. Sehingga menjadi raja-raja kecil, yang sak-maunya- sendiri, karena tidak ada supervisor diatasnya lagi. Tidak ada Pengawas yang bertindak sebagai “Coach Parenting”, sehingga mereka tak terkontrol. Ini mungkin ketidak beruntungan pertama bangsa ini. Lihat Presiden pertama setelah posisi kuat terangkat dirinya seumur hidup, Presiden kedua berusaha mirip sama, berusaha jadi presiden seumur hidup Padahal Presiden pertama dan kedua diiharapkan harus membangun fondasi Rumah Bangsa ini yang kuat terlebih dahulu, karena kedua presiden ini masa jabatannya cukup lama dan diharapkan berhasil membangun fondasi rumah bangsa.

Apa pondasi rumah bangsa , yaitu system administrasi negara dan tata hukum dan system masayarakat yang “solid”. Kalau system administrasi & hukum sudah solid, disitu “semua yang berbau koruptif’ tak akan ada kesempatan berkembang. Sehingga presiden-presiden berikutnya tinggal bikin rumah bangsa yang bagus, presiden berikutnya lagi, tinggal mengisi rumah bangsa dengan Isi rumah yang lebih bagus. Tetapi kenyataan angan-angan saya tentang Rumah Bangsa itu tak terwujud, itulah kenapa saya menilai Negara kita ini bernasib kurang beruntung?

Kenapa saya menyebut “bernasib kurang beruntungl”, marilah kita berandai-andai , mungkin ini disebabkan:
1. Kalau Jepang tidak kalah perang (Tidak dibom atom sama Sekutu), Negara kita RI merdeka dengan “Coach Parenting” dari Jepang. Mungkin para pemimpin kita semua berpendidikan Jepang. Semua tahu bangsa Jepang bangsa yang disiplin. Secara logika, melalui coach perenting dari Jepang, bangsa Indonesia akan dipimpin tetap oleh Bung Karno dengan model admistrasi gaya Jepang yang dikenal disiplin. Pasti budaya korupsi tak akan tumbuh di Indonesia. Mungkin kita juga diajarai budaya “sumimaseng’ sambil menunduk mohon maaf kalau berbuat salah, dan ada budaya malu ala Jepang. Para-Pemimpin akan malu berbudaya korupsi. Nggak ada itu pegawai pajak model “Gayus” apalagi ada istilah “mafiapajak”, akan nggak ada Team Anti Korupsi Team Harimau ( saat Bung Karno sebagai presidena pertama , atau Team KPK seperti jaman SBY. Karena Gaya Manajeman Perusahan kita akan menganut Manajemen Gaya Jepang. Ini saya sebut ketidak beruntungan bangsa kita yang kedua.

2. Kemungkinan kedua, kalau Belanda itu lebih bijak sewaktu numpang sekutu masuk Indonesia lagi. Mungkin kita dan Arek-arek Surabaya tak akan berteriak” Kumpeni Go to hell”, dan Indonesia Merdeka dengan tetap mesra dengan Belanda. Kemungkinan para pemimpin kita dapat bea siswa ke Belanda dan para pemimpin secara tidak langsung kita juga dapat “Coach Parenting” dari Negara Belanda/Eropa dalam menata Negara diawal-awal kepemimpinan Presiden Pertama kita. Semua orang tau. Bahwa nenek-kita yang dapat pendidikan Belanda, sangat kental rasa disiplinnya. Sehingga para Pemimpin Negara ini sebagai Team Leader suatu Rumah Bangsa yang baru akan ada Rasa “sungkan” dengan supervisor bayangan dari bentuk”Coach Parenting” dari Negara bekas penjajahnya memalui para pemimpin hasil pendidikan Eropa/Belanda. Praktis Budaya korupsi nggak akan pernah seperti yang ada sekarang ini. Ini saya sebut bangsa ini kurang beruntung yang ketiga.
Tapi bagaimanapun dan apappunyang sudah terjadi kita lupakan saja, mari kita sekarang sudah ada NKRI, lupakan semua  ketidak beruntungan kita.  Lalu apa yang musti kita perbuat. Kita tatap masa depan NKRI. Kita perlu belajar dari pengalaman masa lalu. Marilah kita Re-engineering Bangsa ini dengan arif dan bijak, tak perlu terlalu menyalahkan masa lalu, mencaci pemimpin masa lalu. Karena semua pemimpin masa lalu sudah takdir (Given dari Yang Di Atas). Dan semua pemimpin mempunyai fansnya masing-masing. kalau kita saling menyalahkan kita akan terjebak dalam pertentangan yang panjang dan tak akan kunjung habis. Sekarang fakta yang ada adalah kita punya kebanggaan “Kita merdeka dengan hasil perjuangan para pendahulu kita” Tetapi juga merupakan fakta kita sudah lebih dari 66 tahun merdeka masih mempunyai kekurangan dan kelambatan dalam pertumbuhan dengan negara-negra  tetangga kita, karena ada masalah “sifat koruptif ”  didalam sistem pemerintahan kita, sehingga negara kita yang mempunyai sumber kekayaadn SDA yang melimpah tetapi kueh kemakmuran masih jauh dari rasa keadilan.

Saya mencoba mencari negara pembanding untuk kita bisa kita tengok pengalamannya dalam memerangi Masalah Korupsi dan Sifat Koruptif para penguasa. Negara dengan penduduk besar dan mempunyai praktek Korupsi Masa lalu yang pekat, kita bisa tiru negara CINA. Negara Besar dengan dengan semangat baru, mencoba membentuk disiplin baru yang kuat menjadi kekuatan Ekonomi besar.Itu semua karena CINA bisa berantas korupsi. Kebetulan saya barusan kunjungi Cina, Kata orang Indonesia yang sudah menetap disana, Cina tahun 1960-an, tidak beda dengan Indonesia, tetapi dimulai dengan revolusi budaya, pemimpin Cina Deng Xiau Ping mampu berantas korupsi, dan sekarang Cina maju LUAR BIASA bisa kalahkan Barat.

Salam
Ridwan Fakih

Kaitkata:


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.